Pemilihan parlemen di Hungary yang dijadwalkan pada 12 April 2026 dipandang sebagai titik balik signifikan bagi Eropa. Dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada negara anggota Uni Eropa yang lebih menghambat kebijakan luar negeri, pertahanan, energi, dan migrasi secara bersama daripada Hungary, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Viktor Orban.
Dampak Orban terhadap Uni Eropa
Sejak menjabat, Orban telah menolak berpartisipasi dalam kebijakan suaka bersama Uni Eropa dan mekanisme pertahanan bersama. Ia juga menentang pergeseran cepat Eropa menuju kemandirian energi yang berbasis pada tenaga surya dan angin, sementara tetap mengimpor minyak dan gas dari Rusia. Selain itu, Orban juga memveto pembukaan pembicaraan keanggotaan Ukraina dan menolak pinjaman 90 miliar euro ($105 miliar) untuk Ukraina.
Para pengamat menilai bahwa kemenangan atau kekalahan partai Fidesz yang telah berkuasa selama 16 tahun ini akan berdampak luas pada tata kelola Uni Eropa di masa mendatang. “Kita memiliki dua pemerintah dalam UE [Hungary, Slovakia] dan satu di luar, Makedonia Utara, yang sangat fanatik terhadap Trump dan pada saat yang sama pro-Rusia,” ungkap Angelos Syrigos, anggota parlemen New Democracy yang konservatif dari Athena. Ia menekankan bahwa veto yang sering dilakukan Orban akan memaksa negara-negara anggota untuk mencari solusi yang saling menguntungkan.
Posisi Partai Tisza
Pemimpin partai oposisi Tisza, Peter Magyar, menginginkan orientasi Eropa yang lebih kuat dan berencana untuk mengajukan keanggotaan Ukraina dalam referendum yang mengikat. Ia juga ingin menanggulangi korupsi, melepaskan miliaran euro dari dana UE yang tertahan, dan menghentikan penarikan Hungary dari Mahkamah Pidana Internasional.
Respon Praktis Uni Eropa
Menurut jajak pendapat saat ini, partai Tisza diperkirakan meraih sekitar 50 persen suara, unggul sekitar 10 poin dari Fidesz. Namun, meskipun Orban dicopot dari jabatannya, ada pemimpin-pemimpin lain di Eropa yang memiliki pandangan serupa dan mungkin berusaha mengisi peran penghambat yang ditinggalkannya, seperti Perdana Menteri Slovakia Robert Fico atau Perdana Menteri Ceko Andrej Babis.
Beberapa pihak melihat sisi positif dari karir Orban sebagai pengganggu konsensus, karena ia telah memaksa UE untuk beradaptasi secara pragmatis. Sebagai contoh, pada KTT Desember 2023, Orban diminta keluar dari ruangan agar pemimpin-pemimpin UE dapat secara aklamasi menyatakan Ukraina sebagai negara kandidat. Menurut laporan, mereka membujuk Orban dengan janji untuk melepaskan 10 miliar euro ($11,6 miliar) dari dana UE yang terblokir.
Potensi Perubahan Mendatang
Apabila Orban tetap berkuasa, Uni Eropa telah mengusulkan ide untuk menghindari veto yang dilakukannya dengan merilis serangkaian 26 pinjaman bilateral kepada Ukraina dari anggota lainnya. Terdapat pula beberapa kasus di mana blok tersebut berhasil mengatasi penolakan.
Tahun 2010, ketika Yunani menjadi negara pertama di zona euro yang bangkrut, hal itu mengancam stabilitas ekonomi Eropa. Momen ini menunjukkan betapa pentingnya pemilihan di Hungary bagi masa depan Uni Eropa dan bagaimana hasilnya dapat mempengaruhi kebijakan di seluruh benua.
Kesimpulan
Dengan latar belakang ketegangan politik dan ekonomi yang semakin meningkat, pemilihan Hungary pada April mendatang tidak hanya akan menentukan nasib partai Fidesz dan Viktor Orban, tetapi juga memberikan dampak yang signifikan terhadap arah dan kebijakan Uni Eropa di masa depan. Semua mata kini tertuju pada hasil pemilihan ini, yang diperkirakan akan menjadi salah satu momen paling penting dalam sejarah politik Eropa saat ini.