Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin mendalam di dunia kerja, dengan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat dan Kanada mulai mengandalkan agen AI untuk menyelesaikan tugas-tugas rutin. Salah satu contohnya adalah Snowflake, sebuah platform data berbasis cloud, yang telah menerapkan agen AI untuk membantu para insinyurnya.
Qaiser Habib, kepala insinyur Snowflake di Toronto, menjelaskan bahwa sebelumnya para insinyur menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan tugas dasar, seperti memeriksa dashboard dan meminta data dari rekan kerja. Namun, dengan adanya agen AI, mereka kini dapat lebih fokus pada keputusan tingkat tinggi.
Peran Agen AI dalam Lingkungan Kerja
Habib melaporkan bahwa ia menghabiskan 20 hingga 30 jam seminggu untuk berinteraksi dengan lima agen AI. Agen-agen ini tidak hanya membantu dalam merancang produk, tetapi juga memberikan dukungan saat terjadi gangguan. Rata-rata, setiap insinyur bekerja dengan tiga hingga empat agen setiap hari untuk menyelesaikan proyek pengkodean di bawah pengawasan manusia.
“Anda tidak perlu lagi mengganggu manusia untuk pertanyaan dasar,” kata Habib. Meskipun begitu, kolaborasi dengan rekan kerja tetap diperlukan untuk pekerjaan yang lebih kompleks, seperti memecahkan masalah pengkodean.
Transformasi Hierarki Kantor
Eksperimen perusahaan dengan agen AI menunjukkan bahwa teknologi ini mulai mengubah struktur hierarki di kantor. Berbeda dengan chatbot yang hanya merespon perintah, agen AI dapat beradaptasi dengan konteks yang berubah, seperti tujuan bisnis, dan menggunakan alat referensi seperti kalendar, transkrip rapat, dan basis data internal untuk menyelesaikan tugas tanpa pengawasan manusia yang berlebihan.
Di beberapa tempat kerja, sistem AI tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga memberikan penugasan kepada pekerja manusia. Seiring dengan kemajuan teknologi, agen AI semakin mampu mengelola satu sama lain. Misalnya, satu agen dapat menghasilkan kode, sementara agen lainnya melakukan pemeriksaan kesalahan sebelum hasil akhir disetujui oleh manusia.
Dampak di Dunia Kerja
Perkembangan ini tentu saja membantu perusahaan untuk berkembang lebih cepat. Namun, hal ini juga memunculkan kekhawatiran bahwa AI berpotensi mengambil alih peran pengawasan dan bahkan menggantikan pekerjaan manusia.
Perusahaan seperti Anthropic telah memperluas akses ke agen AI mereka, memungkinkan pengguna tanpa keahlian teknis untuk memberikan izin kepada Claude, asisten AI mereka, untuk membaca, mengedit, dan mengorganisir berkas secara otonom.
Penggunaan agen AI yang semakin meluas ini juga mengubah cara organisasi berfungsi di seluruh dunia, bahkan di perusahaan yang tidak fokus pada pengembangan produk teknologi. Beberapa perusahaan mulai menggunakan alat AI untuk melacak kinerja, merekomendasikan promosi, perubahan peran, dan bahkan mengidentifikasi posisi yang perlu dihilangkan.
Perubahan ini terjadi di tengah hilangnya pekerjaan kelas menengah, terutama di AS. Banyak perusahaan di AS telah mengumumkan pemutusan hubungan kerja secara massal, yang terutama berdampak pada pekerja tingkat pemula dan manajemen menengah. Para eksekutif menunjukkan bahwa efisiensi yang didorong oleh otomatisasi dan AI menjadi bagian dari alasan pemutusan tersebut.
Misalnya, ketika Amazon mengumumkan rencana untuk menghapus sekitar 14.000 pekerjaan, eksekutif mengindikasikan potensi AI untuk membantu perusahaan beroperasi dengan lebih sedikit lapisan organisasi dan dengan efisiensi yang lebih tinggi. UPS, Target, dan General Motors juga mengumumkan pemotongan besar tahun lalu, dan Januari ini tercatat sebagai bulan dengan lebih banyak pemutusan kerja dibandingkan Januari mana pun di AS sejak 2009.
Kesimpulan
Dengan semakin berkembangnya teknologi AI, penting bagi kita untuk memantau dampaknya terhadap dunia kerja di Indonesia. Sementara teknologi ini menawarkan peluang baru untuk efisiensi, kita juga harus siap menghadapi tantangan yang muncul, termasuk perubahan dalam struktur pekerjaan dan potensi penggantian tenaga kerja manusia.