Juru bicara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran, Ali Mohammad Naini, dilaporkan tewas dalam serangan udara yang dilakukan bersama oleh Amerika Serikat dan Israel. Kematian Naini, seorang jenderal bintang satu berusia 68 tahun, merupakan bagian dari serangkaian pembunuhan pejabat tinggi Iran yang terjadi sejak dimulainya konflik ini.
Pernyataan IRGC Mengenai Kematian Naini
Dalam pernyataan resmi pada 20 Maret 2026, IRGC menyebutkan bahwa Naini “syahid dalam serangan teroris yang dilakukan oleh pihak Amerika-Zionis pada dini hari”. Naini baru saja tampil di televisi nasional beberapa jam sebelum serangan, menegaskan bahwa Iran masih memiliki kapasitas penuh untuk memproduksi rudal meskipun dalam kondisi perang.
“Industri rudal kami layak mendapatkan nilai sempurna… dan tidak ada kekhawatiran dalam hal ini, karena bahkan dalam kondisi perang kami tetap melanjutkan produksi rudal,” kutipnya dari berita Fars.
Reaksi Global dan Kontroversi
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menyatakan bahwa Iran sudah tidak lagi memiliki kapasitas untuk memperkaya uranium dan memproduksi rudal balistik. Pernyataan ini semakin memicu ketegangan antara kedua negara, terutama saat Israel melanjutkan serangan di wilayah timur Teheran, bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Persia, Nowruz, yang tahun ini bersamaan dengan perayaan Idul Fitri.
Dampak Kematian Naini terhadap Iran
Kematian Naini menambah daftar panjang pembunuhan pejabat tinggi Iran yang telah terjadi dalam waktu kurang dari tiga minggu. Di antara mereka yang tewas adalah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang dibunuh di awal kampanye militer AS-Israel pada 28 Februari, dan telah digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei. Selain itu, Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, juga tewas dalam serangan yang sama, bersama dengan putranya dan beberapa ajudan.
Dalam waktu 48 jam yang sama, Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, kepala pasukan paramiliter Basij, serta Menteri Intelijen Esmail Khatib, juga dipastikan tewas. Selain itu, militer Israel mengklaim telah membunuh Esmail Ahmadi, seorang tokoh intelijen senior dalam unit Basij IRGC, dalam serangan di Teheran.
Persepsi di Amerika Serikat
Pada hari yang sama, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengungkapkan kebahagiaan Washington atas kematian pejabat tinggi Iran, menyatakan bahwa “pekerjaan terakhir yang diinginkan siapapun di dunia saat ini” adalah posisi kepemimpinan senior di IRGC atau Basij. Meski demikian, beberapa pejabat AS lainnya menekankan bahwa tujuan Washington dan Israel di Iran tidak selalu sejalan. Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, mengatakan kepada Komite Intelijen DPR bahwa tujuan AS dan Israel “berbeda”, dengan fokus Israel pada melemahkan kepemimpinan Iran, sementara AS ingin menghancurkan kemampuan rudal balistik Iran dan angkatan lautnya.
Kesimpulan
Kematian Ali Mohammad Naini menandai peningkatan ketegangan di kawasan dan menunjukkan dampak signifikan dari serangan AS-Israel terhadap struktur kekuasaan Iran. Dengan serangkaian pembunuhan pejabat tinggi, Iran kini menghadapi tantangan besar dalam stabilitas internal dan strategi pertahanannya. Situasi ini berpotensi memicu respons yang lebih agresif dari Iran, yang dapat memengaruhi dinamika keamanan di Timur Tengah.