Harga minyak global mengalami lonjakan lebih dari 5% setelah serangan yang dilakukan oleh Israel terhadap ladang gas South Pars di Iran. Peristiwa ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara AS-Israel melawan Iran yang semakin meningkat.
Detail Serangan dan Dampaknya
Harga minyak Brent, sebagai acuan internasional, tercatat naik 5% menjadi $108,66 per barel pada hari Rabu. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) di AS juga naik 2,5% menjadi $98,65, sehingga selisih harga antara WTI dan Brent mencapai titik terlebar sejak Mei 2019, disebabkan kekhawatiran akan konflik yang berkepanjangan.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa fasilitas gas alam yang terkait dengan ladang South Pars—ladang gas terbesar di dunia yang terletak di lepas pantai provinsi Bushehr, Iran—menjadi sasaran serangan. Setelah kejadian tersebut, Garda Revolusi Iran mengancam akan menyerang infrastruktur minyak dan gas di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, yang dapat meningkatkan risiko gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi di kawasan tersebut.
Kejadian di Qatar dan Dampak Global
Pada hari yang sama, otoritas Qatar melaporkan adanya kebakaran di fasilitas gas Ras Laffan setelah serangan rudal balistik Iran. Kementerian Dalam Negeri Qatar menyatakan bahwa kebakaran telah berhasil dikendalikan.
Konflik antara AS-Israel dan serangan balasan Tehran terhadap negara-negara tetangga di Teluk telah mengganggu ekspor minyak dan gas alam dari Timur Tengah, serta memaksa penghentian produksi. Jika gangguan ini terus berlanjut, para ahli memperingatkan bahwa ekonomi global dapat menghadapi gelombang inflasi yang signifikan.
Perang yang terjadi telah menghentikan sebagian besar pengiriman melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting di mana 20% pasokan minyak dan gas alam cair global melewati. Diperkirakan, pemotongan total output minyak di Timur Tengah mencapai antara 7 juta hingga 10 juta barel per hari, setara dengan 7% hingga 10% dari permintaan global.
Tanggapan Pemerintah AS
Menanggapi situasi ini, pemerintahan Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa mereka memberikan pengabaian selama 60 hari terhadap undang-undang pengangkutan Jones Act, yang memungkinkan kapal berbendera asing untuk mengangkut bahan bakar, pupuk, dan barang lainnya antar pelabuhan di AS. Selain itu, AS juga mengeluarkan lisensi umum yang mengizinkan sejumlah kesepakatan yang melibatkan perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, seperti yang diumumkan oleh Departemen Keuangan AS.
Di Irak, sumber dari perusahaan minyak North Oil melaporkan bahwa ekspor telah dilanjutkan melalui pipa setelah Baghdad dan Pemerintah Wilayah Kurdistan sepakat pada hari Selasa untuk memulai kembali aliran minyak. Dua pejabat minyak menyatakan pekan lalu bahwa Irak berusaha untuk memompa setidaknya 100.000 barel per hari melalui pelabuhan.
Kesimpulan
Serangan Israel di ladang gas South Pars menambah ketegangan di kawasan yang sudah penuh gejolak. Lonjakan harga minyak tidak hanya berdampak pada pasar energi, tetapi juga dapat memicu krisis ekonomi global lebih luas jika tidak ada penyelesaian yang cepat. Pemantauan terhadap situasi ini sangat penting untuk memahami dampak jangka panjangnya terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.