Sebuah serangan yang diduga dilakukan oleh Iran di Bahrain telah menyebabkan seorang wanita berusia 29 tahun tewas dan delapan orang lainnya terluka. Insiden ini terjadi ketika beberapa negara di kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, berusaha untuk mencegah serangan drone dan rudal dari Iran. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengkonfirmasi kejadian tersebut pada hari Selasa, 10 Maret 2026.
Rincian Serangan di Bahrain
Serangan ini terjadi setelah Kementerian Kesehatan Bahrain melaporkan bahwa dua orang, termasuk beberapa anak-anak, terluka akibat serangan drone Iran di pulau Sitra, selatan Manama. Bahrain juga menyatakan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat dan menghancurkan 102 rudal dan 173 drone yang diluncurkan dari Iran, yang dianggap sebagai “agresi Iran” terhadap kerajaan tersebut.
Komando Umum Angkatan Pertahanan Bahrain menggambarkan serangan ini sebagai “agresi berdosa dari Iran”. Di sisi lain, pada pagi hari yang sama, sirene peringatan rudal terdengar di Dubai, Uni Emirat Arab, menunjukkan bahwa ketegangan semakin meningkat di wilayah tersebut.
Respons Negara-Negara Teluk
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengungkapkan bahwa mereka berhasil menghancurkan dua drone di wilayah timur yang kaya minyak. Sementara itu, Garda Nasional Kuwait melaporkan bahwa mereka berhasil menembak jatuh enam drone yang mencoba menyerang wilayah utara dan selatan negara tersebut.
Serangan terbaru Iran ini muncul di tengah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengatakan kepada para legislator Republik bahwa perang AS-Israel terhadap Iran kemungkinan akan menjadi “ekskursi singkat”. Namun, beberapa jam kemudian, Trump memperingatkan bahwa AS akan meningkatkan serangan secara dramatis jika Iran mencoba menutup Selat Hormuz, jalur pengiriman utama bagi 20 persen pasokan minyak dunia.
Dampak pada Infrastruktur Energi
Dalam 24 jam terakhir, beberapa situs di Qatar juga mengalami serangan. Jurnalis Al Jazeera, Aksel Zaimovic, melaporkan bahwa 17 rudal balistik dan tujuh drone berhasil dicegat dan dihancurkan. Serangan yang terus meningkat ini dan kesulitan dalam mengangkut pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz telah memaksa Qatar untuk menghentikan sebagian produksinya.
“Serangan ini sangat berfokus pada infrastruktur energi,” ungkap Zaimovic. Contohnya, Bapco, perusahaan energi Bahrain, terpaksa menyatakan keadaan memaksa setelah gelombang serangan Iran menghantam instalasi energinya. Ini berarti mereka tidak dapat memenuhi beberapa kewajiban pasokan kontrak akibat gangguan ini.
Di Arab Saudi, banyak drone juga menyerang ladang minyak Shaybah, yang memproduksi satu juta barel minyak setiap hari. Dalam beberapa hari terakhir, ladang tersebut mengalami serangan yang terus-menerus, menimbulkan banyak pertanyaan mengenai keamanan pasokan energi dari kawasan Teluk.
Harga Minyak Meningkat
Harga minyak mentah Brent, standar internasional, melonjak hampir $120 pada hari Senin sebelum turun kembali, tetapi tetap berada di sekitar $90 per barel pada hari Selasa, meningkat hampir 24 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari. Iran juga telah menghentikan kapal tanker dari menggunakan Selat Hormuz, yang merupakan jalur pengiriman utama menuju Samudera Hindia.
Kesimpulan
Serangan yang dilakukan Iran di Bahrain menunjukkan meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk dan dampaknya terhadap keamanan energi global. Dengan serangan yang terus berlanjut dan respons dari negara-negara tetangga, situasi ini berpotensi menjadi lebih kompleks di masa depan.