Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik AS-Israel

Lonjakan Harga Minyak Melewati $100 per Barell, Dampak Konflik AS-Israel

Harga minyak dunia mengalami lonjakan yang signifikan, menembus angka $100 per barell akibat dampak dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Lonjakan ini terjadi setelah serangan udara di kilang minyak Shahran di Tehran, Iran, yang dilaporkan terjadi pada 8 Maret 2026.

Harga minyak Brent, yang menjadi patokan internasional, meningkat lebih dari 20 persen pada hari Minggu, bahkan sempat mencapai $114 per barell. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran yang semakin meningkat akan gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan.

Setelah sedikit mereda, harga minyak Brent tercatat sekitar $107,50 per barell pada pukul 02:30 GMT pada hari Senin. Ini merupakan kali pertama harga minyak melampaui $100 per barell sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.

Pernyataan Pejabat AS

Presiden AS, Donald Trump, yang berfokus pada isu biaya hidup dalam kampanye pemilihan 2024, angkat bicara menanggapi lonjakan harga minyak ini. Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, ia meremehkan lonjakan harga tersebut, menyatakan bahwa harga minyak dalam jangka pendek akan turun dengan cepat setelah ancaman nuklir Iran diatasi. “Hanya orang bodoh yang berpikir berbeda,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Energi AS, Chris Wright, juga meremehkan kemungkinan kenaikan harga energi. Ia mengatakan kepada program Face the Nation di CBS News bahwa setiap kenaikan harga di pom bensin adalah bersifat sementara.

Dampak Global dan Respons Iran

Sejak serangan bersama AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, harga minyak mentah telah mengalami kenaikan sekitar 50 persen. Iran mengambil tindakan balasan dengan menghentikan pengiriman di Selat Hormuz, yang mengancam sekitar seperlima dari pasokan minyak global.

Negara-negara besar penghasil minyak dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), seperti Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, juga mengurangi produksi minyak mereka. Ini disebabkan akumulasi tumpukan barell yang tidak bisa dipasarkan akibat penutupan jalur air tersebut.

Serangan terhadap fasilitas produksi energi di kawasan semakin memperparah ancaman terhadap pasokan. Iran dituduh telah melakukan beberapa serangan terhadap fasilitas energi di Teluk, termasuk di Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait.

Pada hari Sabtu, Israel melakukan serangan udara yang menargetkan infrastruktur minyak Iran untuk pertama kalinya sejak perang dimulai. Serangan tersebut menghantam empat fasilitas penyimpanan minyak dan satu pusat transfer produksi minyak di Tehran dan provinsi Alborz, menurut laporan media negara Iran.

Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) pada hari Minggu memperingatkan akan menargetkan fasilitas energi di seluruh kawasan sebagai balasan, dan memperingatkan bahwa harga minyak dapat melonjak hingga $200 per barell jika AS dan Israel “melanjutkan permainan ini.”

Reaksi Pasar dan Implikasi Ekonomi

Saham-saham di Asia merosot tajam pada pagi hari Senin, seiring investor bersiap menghadapi dampak dari kenaikan harga energi. Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok lebih dari 7 persen pada perdagangan awal, sementara KOSPI Korea Selatan jatuh lebih dari 8 persen. Di Hong Kong, Indeks Hang Seng turun hampir 3 persen.

Futures saham AS, yang diperdagangkan di luar jam pasar reguler, juga mengalami kerugian signifikan. Futures yang terkait dengan indeks S&P 500 Wall Street turun sebesar 1,7 persen, sedangkan untuk Nasdaq Composite yang kaya akan saham teknologi mengalami penurunan sebesar 1,90 persen.

Walaupun pejabat pemerintahan Trump bersikeras bahwa perang akan berakhir dalam beberapa minggu, prospek gangguan yang berkepanjangan terhadap pasokan energi global menambah kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *